Wanita muslimah adalah dambaan setiap pria. Jangankan pria muslim yang taat, seorang pria yang pengetahuan agamanya minim pun mendambakan untuk dapat menikah dengan seorang wanita muslimah. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar, mengingat wanita muslimah mampu menjadi penyejuk hati.
Untuk menjadi wanita muslimah mungkin tidak mudah, bagi sebagian wanita. Namun jika niat yang dimiliki kuat dan selalu berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Muhammad saw, maka menjadi seorang wanita muslimah tidaklah sesulit yang dibayangkan. Jika seorang wanita terus berpegang teguh pada syariat agama islam, insya Allah dengan sendirinya, bahkan tanpa disadarinya, ia akan termasuk ke dalam golongan wanita muslimah.
Pertama: Wanita Muslimah senantiasa beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Rabbnya, percaya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai Nabinya, dan percaya Islam sebagai agamanya. Dan tampak wujud iman itu dalam perkataan, amalan dan i’tiqad. Dia senantiasa waspada, menjauhi murka Allah dan takut pada kepedihan adzab-Nya serta menjauhi apa-apa yang menyelisihi perintah-Nya.
Kedua: Wanita Muslimah senantiasa menjaga shalat lima waktu dengan wudhunya dan khusu’nya serta memperhatikan waktunya. Kesibukan tertentu tidak menjadikan shalat terabaikan. Kesenangan tertentu tidak sampai melalaikan ibadah. Sehingga tampaklah padanya dampak dari penghayatan shalat. Karena sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dan shalat juga merupakan benteng yang besar dari kemaksiatan.
Ketiga: Wanita Muslimah senantiasa menjaga dan memelihara hijab. Merasa senang hati dan mulia dengan busana muslimah itu. Dia tidak keluar kecuali selalu menutup auratnya dan memohon perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan dia bersyukur kepadaNya atas kemulian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hijab tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah menjaga dan menginginkan kesucian dirinya. Allah berfirman:
"Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuhnya”(al-Ahzab: 59)
Keempat: Wanita Muslimah senantiasa bersemangat untuk menjalankan ketaatan pada suaminya, bersikap lemah lembut terhadapnya, menyayanginya, dan mendorongnya kepada kebaikan, memberi nasehat kepadanya dan menjadikan sang suami bisa beristirahat. Dia tidak meninggikan suara terhadapnya dan tidak menyakiti dalam kata-kata.
Telah tersebut di dalam riwayat yang shahih bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
"Apabila seorang wanita shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadlan dan taat pada suaminya niscaya dia masuk surga Rabbnya." (HR. Ahmad dan Thabarani).
Kelima: Wanita Muslimah senantiasa mendidik anak-anaknya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengajarkan pada mereka aqidah yang benar, menanamkan pada hati mereka kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kecintaan pada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, serta menjauhkan mereka dari kemaksiatan dan akhlaq yang tercela.
Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tahrim:6)
Keenam: Wanita Muslimah tidak berduaan di tempat sepi dengan laki-laki asing (bukan mahram).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
"Tidaklah seorang perempuan bersepi-sepi dengan seorang laki-laki kecuali setan menjadi yang ketiganya." (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Al-Hakim)
Sehingga dia tidak bepergian tanpa mahram, dan tidak mendatangi pasar-pasar dan tempat-tempat umum kecuali dalam kondisi mendesak sambil memakai hijab, terselimuti dan rapi tertutup.
Ketujuh: Wanita Muslimah tidak menyerupai laki-laki pada perkara yang khusus bagi laki-laki.
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :
"Allah melaknat orang laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki." (Hadits shahih).
Dan jangan sampai menyerupai perempuan-perempuan kafir pada ciri khas mereka dalam hal pakaian, gerak-gerik, dan tingkah laku, dan lainnya.
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:
"Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka." (HR. Ahmad, Abu Dawud dan lainnya)
Kedelapan: Wanita Muslimah sebagai seorang da’i yang menyeru menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala di barisan perempuan dengan bahasa yang baik, dengan berkunjung ketetangga, dengan menelpon saudari-saudarinya, dengan kitab-kitab kecil dan kaset-kaset Islami. Dia juga melakukan apa yang ia katakan, dan giat untuk menyelamatkan diri dan saudarinya dari adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :
"Sesungguhnya bila Allah memberikan hidayah kepada satu orang lantaran anda, itu lebih baik bagi anda daripada harta yang termahal." (HR. Bukhari dan Muslim).
Kesembilan: Wanita Muslimah senantiasa menjaga hatinya dari perkara syubhat (yang samar) dan syahwat serta menjaga matanya dari perkara yang haram. Menjaga telinganya dari musik, perkataan cabul/jorok dan dosa. Menjaga anggota tubuh seluruhnya dari penyimpangan. Dan mengetahui bahwa yang demikian ini adalah taqwa.
Sabda Rasulullah:
"Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Barangsiapa yang malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya niscaya dia akan menjaga kepala dan apa yang ada di dalamnya dan (menjaga) perut dan apa yang dimuatnya. Dan barangsiapa yang mengingat kematian dan kebinasaan, dia akan meninggalkan perhiasan kehidupan dunia." (HR. Ahmad, Tirmidzi, Hakim).
Kesepuluh: Wanita Muslimah memelihara waktunya agar tidak terbuang sia-sia, menjaga siang hari atau malamnya agar tidak berantakan. Dia menjauhkan diri dari ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), ataupun mencaci, dan hal-hal yang tidak berguna lainnya.
Allah berfirman:
Dan jauhilah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau dan mereka telah terpedaya dengan kehidupan dunia. (Al-An’am:70)
Allah Ta’ala berfirman tentang kaum yang menyia-nyiakan umurnya, bahwa mereka akan berkata:
Betapa ruginya kami karena apa-apa yang telah kami lalaikan di dalamnya (dunia) (Al-An’am: 31)
Wahai para wanita muslim, berlombalah kalian untuk menjadi seorang wanita muslimah yang sebenar-benarnya. Semoga Allah subhanahu wata’ala membimbing kita semua…..
AMIN……………
Thursday, February 19, 2009
7 Golongan yang Dilindungi Allah swt di Akhirat
Rasulullah saw bersabda: " Tujuh orang yang akan dilindungi Allah dalam naungan-Nya yaitu: Imam (pemimpin) yang adil; pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah pada Allah; orang yang hatinya selalu terikat pada masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah pula; seorang lelaki yang dirayu oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan tetapi ia menolaknya seraya berkata 'Aku takut kepada Allah'; orang yang bersedekah sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan kanannya; dan seorang yang berdzikir kepada Allah sendirian lalu menitikkan airmatanya." (HR. Bukhari Muslim)
1. Imam (pemimpin) yang adil
Dalam ajaran Islam, seorang imam atau pemimpin haruslah berlaku adil, karena segala hal yang menjadi tanggungjawabnya akan dipertanyakan kembali di akhirat kelak. Maka bergembiralah bagi pemimpin yang dapat berlaku adil, karena akan mendapatkan naungan di sisi Allah swt di akhirat nanti. Pemimpin yang dimaksud tidak hanya pemimpin sebuah negara ataupun penguasa suatu tempat, namun termasuk pula seorang suami yang memimpin isteri dan anak-anaknya dalam sebuah keluarga.
2. Pemuda tumbuh dewasa dalam beribadah pada Allah swt
Allah juga menjanjikan naungan atau lindungan di akhirat kepada pemuda yang senantiasa hidup dalam ibadah kepada Allah swt. Ibadah yang dilakukan tersebut dilakukan semata-mata karena Allah swt, seakan-akan Allah melihat segala perbuatan dan amal ibadahnya itu.
3. Orang yang hatinya selalu terikat pada masjid
Masjid adalah rumah Allah swt. Naungan Ilahi akan selalu ada di akhirat nanti bagi orang yang senantiasa rindu untuk beribadah di masjid dan merasa betah berada di dalamnya. Setiap waktu, ia selalu menunggu-nunggu tiba saatnya untuk datang ke masjid untuk sholat wajib maupun sunnah, sholat berjamaah, mengaji, mendengarkan ceramah, dan sebagainya.
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah swt, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah pula
Dua orang yang saling mencintai karena Allah akan mendapatkan lindungan dari Allah swt di akhirat nanti, dan Allah swt akan mengizinkan kedua orang tersebut untuk masuk ke dalam syurga-Nya.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: "Ada seorang lelaki yang ingin mengunjungi saudaranya di sebuah desa. Di dalam perjalanannya Allah SWT mengutus seorang malaikat untuk mengawasinya. Ketika lelaki itu sampai padanya, malaikat itu berkata, "Kemanakah engkau akan pergi?' Lelaki itu menjawab, 'Aku ingin mengunjungi saudaraku di desa ini.' Malaikat itu bertanya lagi, 'Apakah engkau punya kepentingan dari kenikmatan di desa ini?' Lelaki itu menjawab, 'Tidak, hanya saja aku mencintainya karena Allah.' Kemudian malaikat itu berkata, 'Sesungguhnya aku adalah utusan Allah SWT yang diutus kepadamu, bahwa Allah juga mencintaimu sebagaimana kamu mencintai-Nya.”
5. Seorang lelaki yang dirayu oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan tetapi ia menolaknya seraya berkata 'Aku takut kepada Allah'
Hal tersebut merupakan salah satu ujian bagi seorang laki-laki, dimana wanita adalah ujian yang sungguh berat bagi kaum laki-laki. Seorang laki-laki yang beriman pada Allah swt takut kepada Allah dan takut kepada azab api neraka, sehingga laki-laki ini sentiasa mendapat perlindungan dari-Nya.
6. Orang yang bersedekah sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan kanannya
Allah swt akan memberikan perlindungan bagi orang yang suka memberi sedekah dengan ikhlas dan tidak mengharapkan balasan selain ridho Allah swt semata. Dalam bersedekah, ia tidak membesar-besarkannya, sebaliknya ia akan melakukannya secara tersembunyi dan tidak ingin diketahui orang lain.
7. Seorang yang berdzikir kepada Allah sendirian lalu menitikkan airmatanya
Berdzikir dengan hati yang tulus, ridho, dan ikhlas seorang diri, dengan perasaan takut kepada Allah hingga meneteskan airmata, sebagai tanda kecintaan kepada Allah swt, menyadari kebesaran Allah swt, serta merasa dirinya penuh dosa sehingga memohonan ampunan kepada-Nya. Allah akan membukakan pintu syurga untuk orang-orang yang seperti ini.
Sungguh beruntungnya orang yang mendapat naungan Allah swt. Semoga kita bisa menjadi salah satu golongan yang mendapatkan perlindungan Allah swt di akhirat nanti. Wallahualam bishshawab.
1. Imam (pemimpin) yang adil
Dalam ajaran Islam, seorang imam atau pemimpin haruslah berlaku adil, karena segala hal yang menjadi tanggungjawabnya akan dipertanyakan kembali di akhirat kelak. Maka bergembiralah bagi pemimpin yang dapat berlaku adil, karena akan mendapatkan naungan di sisi Allah swt di akhirat nanti. Pemimpin yang dimaksud tidak hanya pemimpin sebuah negara ataupun penguasa suatu tempat, namun termasuk pula seorang suami yang memimpin isteri dan anak-anaknya dalam sebuah keluarga.
2. Pemuda tumbuh dewasa dalam beribadah pada Allah swt
Allah juga menjanjikan naungan atau lindungan di akhirat kepada pemuda yang senantiasa hidup dalam ibadah kepada Allah swt. Ibadah yang dilakukan tersebut dilakukan semata-mata karena Allah swt, seakan-akan Allah melihat segala perbuatan dan amal ibadahnya itu.
3. Orang yang hatinya selalu terikat pada masjid
Masjid adalah rumah Allah swt. Naungan Ilahi akan selalu ada di akhirat nanti bagi orang yang senantiasa rindu untuk beribadah di masjid dan merasa betah berada di dalamnya. Setiap waktu, ia selalu menunggu-nunggu tiba saatnya untuk datang ke masjid untuk sholat wajib maupun sunnah, sholat berjamaah, mengaji, mendengarkan ceramah, dan sebagainya.
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah swt, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah pula
Dua orang yang saling mencintai karena Allah akan mendapatkan lindungan dari Allah swt di akhirat nanti, dan Allah swt akan mengizinkan kedua orang tersebut untuk masuk ke dalam syurga-Nya.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: "Ada seorang lelaki yang ingin mengunjungi saudaranya di sebuah desa. Di dalam perjalanannya Allah SWT mengutus seorang malaikat untuk mengawasinya. Ketika lelaki itu sampai padanya, malaikat itu berkata, "Kemanakah engkau akan pergi?' Lelaki itu menjawab, 'Aku ingin mengunjungi saudaraku di desa ini.' Malaikat itu bertanya lagi, 'Apakah engkau punya kepentingan dari kenikmatan di desa ini?' Lelaki itu menjawab, 'Tidak, hanya saja aku mencintainya karena Allah.' Kemudian malaikat itu berkata, 'Sesungguhnya aku adalah utusan Allah SWT yang diutus kepadamu, bahwa Allah juga mencintaimu sebagaimana kamu mencintai-Nya.”
5. Seorang lelaki yang dirayu oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan tetapi ia menolaknya seraya berkata 'Aku takut kepada Allah'
Hal tersebut merupakan salah satu ujian bagi seorang laki-laki, dimana wanita adalah ujian yang sungguh berat bagi kaum laki-laki. Seorang laki-laki yang beriman pada Allah swt takut kepada Allah dan takut kepada azab api neraka, sehingga laki-laki ini sentiasa mendapat perlindungan dari-Nya.
6. Orang yang bersedekah sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan kanannya
Allah swt akan memberikan perlindungan bagi orang yang suka memberi sedekah dengan ikhlas dan tidak mengharapkan balasan selain ridho Allah swt semata. Dalam bersedekah, ia tidak membesar-besarkannya, sebaliknya ia akan melakukannya secara tersembunyi dan tidak ingin diketahui orang lain.
7. Seorang yang berdzikir kepada Allah sendirian lalu menitikkan airmatanya
Berdzikir dengan hati yang tulus, ridho, dan ikhlas seorang diri, dengan perasaan takut kepada Allah hingga meneteskan airmata, sebagai tanda kecintaan kepada Allah swt, menyadari kebesaran Allah swt, serta merasa dirinya penuh dosa sehingga memohonan ampunan kepada-Nya. Allah akan membukakan pintu syurga untuk orang-orang yang seperti ini.
Sungguh beruntungnya orang yang mendapat naungan Allah swt. Semoga kita bisa menjadi salah satu golongan yang mendapatkan perlindungan Allah swt di akhirat nanti. Wallahualam bishshawab.
Mensyukuri Kekurangan
Ratusan, ribuan, jutaan, atau berapakah jumlah manusia di dunia ini yang memiliki kekurangan atau kelebihan? Tidak ada yang tahu pasti. Yang jelas, dan yang sama-sama di setujui oleh semua pihak adalah NO BODY’S PERFECT. Artinya, setiap orang pasti memiliki kekurangan, dari sisi apapun, baik dari sisi yang sama maupun yang berbeda. Kekurangan dan kelebihan dalam diri setiap manusia adalah dua hal yang saling mengikat satu sama lain. Yang menjadi permasalahan adalah “mampukah kita untuk senantiasa mensyukuri kedua hal tersebut?”.
Mensyukuri sebuah kelebihan adalah satu hal yang biasa, meskipun kadang agak sulit dan masih banyak orang yang tidak mampu untuk mensyukuri hal tersebut. Sedangkan mensyukuri sebuah kekurangan, bagi kebanyakan orang adalah mustahil, meskipun sebenarnya banyak sekali kekurangan-kekurangan dalam diri manusia yang akan membantu dirinya agar menjadi seorang hamba yang lebih terjaga, baik di dunia maupun di akhirat.
Banyak orang yang malu, minder, sedih, mengasingkan diri, nggak PD, selalu merasa was-was, selalu dihantui kekecewaan, dan gelisah yang berlarut-larut. Akhirnya, merekapun jadi membenci kekurangan mereka, dan hilanglah rasa syukur di dalam hati mereka.Ada sebuah cara yang jika dilakukan, insyaAllah akan membuat seseorang mampu untuk mensyukuri sebuah kekurangan. Cara ini biasa disebut dengan “Positive thingking”. Istilah Positive thingking ini tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Meskipun demikian, ternyata sulit sekali untuk melaksanakannya. Sebelum kita memperoleh si Positive thingking tersebut. Dan setelah kita memiliki Positive thingking tersebut, maka insya Allah dengan sendirinya rasa syukur itu akan tumbuh di dalam hati kita. Kita akan mengetahui bahwa di balik kekurangan tersebut ada sesuatu yang patut disyukuri. ini, ada satu hal yang terlebih dahulu harus kita yakini. Hal tersebut adalah keyakinan bahwa Allah swt menciptakan segala sesuatu pasti dengan tidak sia-sia. Artinya, Allah swt menciptakan kekurangan dalam diri kita juga pasti ada tujuannya. Jika kita mengetahui apakah tujuan itu, jika kita mengetahui kenapa kekurangan itu ada pada diri kita, jika kita telah menemukan jawabannya, maka kita akan menemukan jalan untuk menuju Positive thingking tersebut. Dan setelah kita memiliki Positive thingking tersebut, maka insya Allah dengan sendirinya rasa syukur itu akan tumbuh di dalam hati kita. Kita akan mengetahui bahwa di balik kekurangan tersebut ada sesuatu yang patut disyukuri.
“Allah swt menciptakan segala sesuatu dengan tidak sia-sia”. Mungkin kita akan bertanya-tanya, lalu apakah tujuan Allah swt sehingga menciptakan kebutaan pada mata seseorang, kenapa Allah swt menciptakan sebuah kebisuan, kenapa Allah swt menciptakan ketulian pada telinga seseorang, dan mengapa Allah swt menciptakan tubuh seseorang dengan kurus (tidak gemuk, kekar, atau berbentuk), kenapa, kenapa, dan kenapa? Mungkin kata “kenapa” tidak akan dapat terhitung jika terus dijabarkan. Untuk lebih mudahnya, kita ambil saja ke-empat contoh yang telah disebutkan diatas yaitu tentang kenapa seseorang dibuat menjadi buta, bisu, tuli, atau kurus.
“Buta”, “Bisu”, “Tuli”, “Kurus”, apa yang yang patut disyukuri dari semua itu? Jika kita renungi lebih dalam lagi, ternyata di dalam ke-empat kekurangan tersebut (dan juga kekurangan-kekurangan yang lain) terdapat sebuah rahasia besar yang patut kita syukuri. Sebenarnya, kekurangan-kekurangan tersebut memiliki peranan yang sangat besar dalam menjaga diri kita. Coba kita perhatikan, berapa banyak di dunia ini orang-orang yang tertipu dan terjerumus oleh mata, mulut/lidah, dan telinganya secara sadar maupun tidak sadar. Berapa banyak orang yang menggunakan mata , lidah, dan telinganya untuk berbuat maksiat kepada Allah swt? Berapa banyak orang yang menggunakan mata mereka untuk melihat hal-hal yang seharusnya tidak mereka lihat? Berapa banyak orang yang menggunakan lidah mereka untuk bergunjing, menggosip, mengumbar fitnah dan aib orang lain, membicarakan sesuatu yang mereka tidak mengerti ilmunya, dan membicarakan segudang hal-hal lain yang tidak selayaknya mereka bicarakan. Berapa banyak orang yang menggunakan telinga mereka untuk menguping dan mendengarkan hal-hal yang bukan hak mereka. Tentunya mata, lidah, dan telinga itu kelak akan dimintai pertanggung jawaban.
Dari pernyataan di atas, tentunya dapat ditarik kesimpulan sederhana bahwa dengan menjadi buta, bisu, atau tuli, berarti Allah swt telah mengurangi satu lubang maksiat dari dalam diri kita. Orang yang buta akan dikurangi dosa matanya dalam melihat maksiat. Orang yang bisu akan dikurangi dosa lidahnya dalam membicarakan maksiat. Orang yang tuli akan dikurangi dosa telinganya dalam mendengarkan hal-hal yang bukan haknya. Apabila kita benar-benar memahami akan hal-hal tersebut, maka insaya Allah swt kita akan mampu untuk selalu mensyukuri kekurangan yang ada dalam diri kita.
Dan bagi orang-orang yang kurus, andapun tidak perlu merasa sedih dan nggak PD secara berlebihan. Karena sebenarnya, kekurusan yang kita miliki juga dapat membuat diri kita menjadi lebih terjaga dan bernilai, jika kita mampu melihatnya dengan Positive thingking. Mungkin saja Allah ingin menjaga harga diri dan kehormatan kita dengan kekurusan tersebut. Tentunya, sebagian besar orang-orang yang kurus dan masih berakal sehat, akan berfikir 1000 kali ketika hendak membuka baju di teras rumahnya. Lain halnya dengan orang-orang yang berbadan gemuk atau kekar. Jangankan diteras rumah, dijalan umum atau dipasarpun banyak sekali yang tidak akan merasa malu untuk membuka pakaiannya. Karena mereka merasa bahwa bentuk tubuh mereka bagus. Yang patut kita syukuri sebagai orang-orang yang kurus adalah, dengan rasa malu itulah Allah ingin menjaga diri kita. Rasulullah saw bersabda:
“Setiap agama memiliki ciri khas, dan ciri khas islam adalah malu.” (HR. Baihaqi).
“Iman punya enampuluh tujuh cabang, dan malu adalah salah satu cabangnya.” (HR. Bukhori).
Sesungguhnya tidak ada sesuatupun di muka bumi ini yang diciptakan, melainkan hanya sebagai sebuah ujian. Kelebihan dan kebahagiaan, kekurangan dan kesedihan, adalah sebuah ujian yang ditujukan kepada rasa syukur dan kesabaran seseorang. Mampukah kita untuk senantiasa mensyukurinya, dan mampukah kita untuk senantiasa bersabar atasnya.
Wallahua’lam bishshowab.
Mensyukuri sebuah kelebihan adalah satu hal yang biasa, meskipun kadang agak sulit dan masih banyak orang yang tidak mampu untuk mensyukuri hal tersebut. Sedangkan mensyukuri sebuah kekurangan, bagi kebanyakan orang adalah mustahil, meskipun sebenarnya banyak sekali kekurangan-kekurangan dalam diri manusia yang akan membantu dirinya agar menjadi seorang hamba yang lebih terjaga, baik di dunia maupun di akhirat.
Banyak orang yang malu, minder, sedih, mengasingkan diri, nggak PD, selalu merasa was-was, selalu dihantui kekecewaan, dan gelisah yang berlarut-larut. Akhirnya, merekapun jadi membenci kekurangan mereka, dan hilanglah rasa syukur di dalam hati mereka.Ada sebuah cara yang jika dilakukan, insyaAllah akan membuat seseorang mampu untuk mensyukuri sebuah kekurangan. Cara ini biasa disebut dengan “Positive thingking”. Istilah Positive thingking ini tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Meskipun demikian, ternyata sulit sekali untuk melaksanakannya. Sebelum kita memperoleh si Positive thingking tersebut. Dan setelah kita memiliki Positive thingking tersebut, maka insya Allah dengan sendirinya rasa syukur itu akan tumbuh di dalam hati kita. Kita akan mengetahui bahwa di balik kekurangan tersebut ada sesuatu yang patut disyukuri. ini, ada satu hal yang terlebih dahulu harus kita yakini. Hal tersebut adalah keyakinan bahwa Allah swt menciptakan segala sesuatu pasti dengan tidak sia-sia. Artinya, Allah swt menciptakan kekurangan dalam diri kita juga pasti ada tujuannya. Jika kita mengetahui apakah tujuan itu, jika kita mengetahui kenapa kekurangan itu ada pada diri kita, jika kita telah menemukan jawabannya, maka kita akan menemukan jalan untuk menuju Positive thingking tersebut. Dan setelah kita memiliki Positive thingking tersebut, maka insya Allah dengan sendirinya rasa syukur itu akan tumbuh di dalam hati kita. Kita akan mengetahui bahwa di balik kekurangan tersebut ada sesuatu yang patut disyukuri.
“Allah swt menciptakan segala sesuatu dengan tidak sia-sia”. Mungkin kita akan bertanya-tanya, lalu apakah tujuan Allah swt sehingga menciptakan kebutaan pada mata seseorang, kenapa Allah swt menciptakan sebuah kebisuan, kenapa Allah swt menciptakan ketulian pada telinga seseorang, dan mengapa Allah swt menciptakan tubuh seseorang dengan kurus (tidak gemuk, kekar, atau berbentuk), kenapa, kenapa, dan kenapa? Mungkin kata “kenapa” tidak akan dapat terhitung jika terus dijabarkan. Untuk lebih mudahnya, kita ambil saja ke-empat contoh yang telah disebutkan diatas yaitu tentang kenapa seseorang dibuat menjadi buta, bisu, tuli, atau kurus.
“Buta”, “Bisu”, “Tuli”, “Kurus”, apa yang yang patut disyukuri dari semua itu? Jika kita renungi lebih dalam lagi, ternyata di dalam ke-empat kekurangan tersebut (dan juga kekurangan-kekurangan yang lain) terdapat sebuah rahasia besar yang patut kita syukuri. Sebenarnya, kekurangan-kekurangan tersebut memiliki peranan yang sangat besar dalam menjaga diri kita. Coba kita perhatikan, berapa banyak di dunia ini orang-orang yang tertipu dan terjerumus oleh mata, mulut/lidah, dan telinganya secara sadar maupun tidak sadar. Berapa banyak orang yang menggunakan mata , lidah, dan telinganya untuk berbuat maksiat kepada Allah swt? Berapa banyak orang yang menggunakan mata mereka untuk melihat hal-hal yang seharusnya tidak mereka lihat? Berapa banyak orang yang menggunakan lidah mereka untuk bergunjing, menggosip, mengumbar fitnah dan aib orang lain, membicarakan sesuatu yang mereka tidak mengerti ilmunya, dan membicarakan segudang hal-hal lain yang tidak selayaknya mereka bicarakan. Berapa banyak orang yang menggunakan telinga mereka untuk menguping dan mendengarkan hal-hal yang bukan hak mereka. Tentunya mata, lidah, dan telinga itu kelak akan dimintai pertanggung jawaban.
Dari pernyataan di atas, tentunya dapat ditarik kesimpulan sederhana bahwa dengan menjadi buta, bisu, atau tuli, berarti Allah swt telah mengurangi satu lubang maksiat dari dalam diri kita. Orang yang buta akan dikurangi dosa matanya dalam melihat maksiat. Orang yang bisu akan dikurangi dosa lidahnya dalam membicarakan maksiat. Orang yang tuli akan dikurangi dosa telinganya dalam mendengarkan hal-hal yang bukan haknya. Apabila kita benar-benar memahami akan hal-hal tersebut, maka insaya Allah swt kita akan mampu untuk selalu mensyukuri kekurangan yang ada dalam diri kita.
Dan bagi orang-orang yang kurus, andapun tidak perlu merasa sedih dan nggak PD secara berlebihan. Karena sebenarnya, kekurusan yang kita miliki juga dapat membuat diri kita menjadi lebih terjaga dan bernilai, jika kita mampu melihatnya dengan Positive thingking. Mungkin saja Allah ingin menjaga harga diri dan kehormatan kita dengan kekurusan tersebut. Tentunya, sebagian besar orang-orang yang kurus dan masih berakal sehat, akan berfikir 1000 kali ketika hendak membuka baju di teras rumahnya. Lain halnya dengan orang-orang yang berbadan gemuk atau kekar. Jangankan diteras rumah, dijalan umum atau dipasarpun banyak sekali yang tidak akan merasa malu untuk membuka pakaiannya. Karena mereka merasa bahwa bentuk tubuh mereka bagus. Yang patut kita syukuri sebagai orang-orang yang kurus adalah, dengan rasa malu itulah Allah ingin menjaga diri kita. Rasulullah saw bersabda:
“Setiap agama memiliki ciri khas, dan ciri khas islam adalah malu.” (HR. Baihaqi).
“Iman punya enampuluh tujuh cabang, dan malu adalah salah satu cabangnya.” (HR. Bukhori).
Sesungguhnya tidak ada sesuatupun di muka bumi ini yang diciptakan, melainkan hanya sebagai sebuah ujian. Kelebihan dan kebahagiaan, kekurangan dan kesedihan, adalah sebuah ujian yang ditujukan kepada rasa syukur dan kesabaran seseorang. Mampukah kita untuk senantiasa mensyukurinya, dan mampukah kita untuk senantiasa bersabar atasnya.
Wallahua’lam bishshowab.
Ciri-ciri Orang Ikhlas
Syaikh Ahmad Ibnu Athaillah berkata dalam kitab Al Hikam,
“Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruh (jiwa) nya adalah tempat terdapatnya rahasia ikhlas (ketulusan) dalam amal perbuatan”.
Bab tentang ikhlas adalah bab yang mutlak dan paling penting untuk dipahami dan diamalkan, karena amal yang akan diterima Allah SWT hanyalah amal yang disertai dengan niat ikhlas.
“Tidaklah mereka diperintah kecuali agar berbuat ikhlas kepada Allah dalam menjalankan agama”.
Oleh karenanya, sehebat apapun suatu amal bila tidak ikhlas, tidak ada apa-apanya dihadapan Allah SWT, sedang amal yang sederhana saja akan menjadi luar biasa dihadapan Allah SWT bila disertai dengan ikhlas.
Tidaklah heran seandainya shalat yang kita kerjakan belum terasa khusyu, atau hati selalu resah dan gelisah dan hidup tidak merasa nyaman dan bahagia, karena kunci dari itu semua belum kita dapatkan, yaitu sebuah keikhlasan.Ciri-ciri dari orang yang memiliki keikhlasan diantaranya :
1. Hidupnya jarang sekali merasa kecewa
Orang yang ikhlas dia tidak akan pernah berubah sikapnya seandainya disaat dia berbuat sesuatu kebaikan ada yang memujinya, atau tidak ada yang memuji/menilainya bahkan dicacipun hatinya tetap tenang, karena ia yakin bahwa amalnya bukanlah untuk mendapatkan penilaian sesama yang selalu berubah tetapi dia bulatkan seutuhnya hanya ingin mendapatkan penilaian yang sempurna dari Allah SWT.
2. Tidak tergantung / berharap pada makhluk
Sayyidina “™Ali pun pernah berkata, orang yang ikhlas itu jangankan untuk mendapatkan pujian, diberikan ucapan terima kasih pun dia sama sekali tidak akan pernah mengharapkannya, karena setiap kita beramal hakikatnya kita itu sedang berinteraksi dengan Allah, oleh karenanya harapan yang ada akan senantiasa tertuju kepada keridhaan Allah semata.
3. Tidak pernah membedakan antara amal besar dan amal kecil
Diriwayatkan bahwa Imam Ghazali pernah bermimpi, dan dalam mimpinya beliau mendapatkan kabar bahwa amalan yang besar yang pernah beliau lakukan diantaranya adalah disaat beliau melihat ada seekor lalat yang masuk kedalam tempat tintanya, lalu beliau angkat lalat tersebut dengan hati-hati lalu dibersihkannya dan sampai akhirnya lalat itupun bisa kembali terbang dengan sehat. Maka sekecil apapun sebuah amal apabila kita kerjakan dengan sempurna dan benar-benar tiada harapan yang muncul pada selain Allah, maka akan menjadi amal yang sangat besar dihadapan Allah SWT.
4. Banyak Amal Kebaikan Yang Rahasia
Mungkin ketika kita mengaji dilingkungan orang banyak maka kita akan mengaji dengan enaknya, lama dan penuh khidmat, ketika kita shalat berjamaah apalagi sebagai imam kita akan berusaha khusyu dan lama, tapi apakah hal tersebut akan kita lakukan dengan kadar yang sama disaat kita beramal sendirian ? apabila amal kita tetap sama bahkan cenderung lebih baik, lebih lama, lebih enak dan lebih khusyuk maka itu bisa diharapkan sebagai amalan yang ikhlas. Namun bila yang terjadi sebaliknya, ada kemungkinan amal kita belumlah ikhlas.
5. Tidak membedakan antara bendera, golongan, ras, atau organisasi
Fitrah manusia adalah ingin mendapatkan pengakuan dan penilaian dari keberadaannya dan segala aktivitasnya, namun pengakuan dan penilaian makhluk, baik perorangan, organisasi atau instansi tempat kerja itu relatif dan akan senantiasa berubah, banyak orang yang pernah dianggap sebagai pahlawan namun seiring waktu berjalan adakalanya berubah menjadi sosok penjahat yang patut diwaspadai. Maka tiada penilaian dan pengakuan yang paling baik dan yang harus senantiasa kita usahakan adalah penilaian dan pengakuan dari Allah SWT.
Begitu besar pengaruh orang yang ikhlas itu, sehingga dengan kekuatan niat ikhlasnya mampu menembus ruang dan waktu. Seperti halnya apapun yang dilakukan, diucapkan, dan diisyaratkan Rasulullah, mampu mempengaruhi kita semua walau beliau telah wafat ribuan tahun yang lalu namun kita senantiasa patuh dan taat terhadap apa yang beliau sampaikan.
Bahkan orang yang ikhlas bisa membuat iblis (syaitan) tidak bisa banyak berbuat dalam usahanya untuk menggoda orang ikhlas tersebut. Ingatlah, apapun masalah kita kita janganlah hati kita sampai pada masalah itu, cukuplah hanya ikhtiar dan pikiran saja yang sampai pada masalah tersebut, tapi hati hanya tertambat pada Allah SWt yang Maha Mengetahui akan masalah yang kita hadapi tersebut.
Semoga Allah SWT membimbing kita pada jalan-Nya sehingga kita bisa menjadi hamba-Nya yang ikhlas. Amiin.
“Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruh (jiwa) nya adalah tempat terdapatnya rahasia ikhlas (ketulusan) dalam amal perbuatan”.
Bab tentang ikhlas adalah bab yang mutlak dan paling penting untuk dipahami dan diamalkan, karena amal yang akan diterima Allah SWT hanyalah amal yang disertai dengan niat ikhlas.
“Tidaklah mereka diperintah kecuali agar berbuat ikhlas kepada Allah dalam menjalankan agama”.
Oleh karenanya, sehebat apapun suatu amal bila tidak ikhlas, tidak ada apa-apanya dihadapan Allah SWT, sedang amal yang sederhana saja akan menjadi luar biasa dihadapan Allah SWT bila disertai dengan ikhlas.
Tidaklah heran seandainya shalat yang kita kerjakan belum terasa khusyu, atau hati selalu resah dan gelisah dan hidup tidak merasa nyaman dan bahagia, karena kunci dari itu semua belum kita dapatkan, yaitu sebuah keikhlasan.Ciri-ciri dari orang yang memiliki keikhlasan diantaranya :
1. Hidupnya jarang sekali merasa kecewa
Orang yang ikhlas dia tidak akan pernah berubah sikapnya seandainya disaat dia berbuat sesuatu kebaikan ada yang memujinya, atau tidak ada yang memuji/menilainya bahkan dicacipun hatinya tetap tenang, karena ia yakin bahwa amalnya bukanlah untuk mendapatkan penilaian sesama yang selalu berubah tetapi dia bulatkan seutuhnya hanya ingin mendapatkan penilaian yang sempurna dari Allah SWT.
2. Tidak tergantung / berharap pada makhluk
Sayyidina “™Ali pun pernah berkata, orang yang ikhlas itu jangankan untuk mendapatkan pujian, diberikan ucapan terima kasih pun dia sama sekali tidak akan pernah mengharapkannya, karena setiap kita beramal hakikatnya kita itu sedang berinteraksi dengan Allah, oleh karenanya harapan yang ada akan senantiasa tertuju kepada keridhaan Allah semata.
3. Tidak pernah membedakan antara amal besar dan amal kecil
Diriwayatkan bahwa Imam Ghazali pernah bermimpi, dan dalam mimpinya beliau mendapatkan kabar bahwa amalan yang besar yang pernah beliau lakukan diantaranya adalah disaat beliau melihat ada seekor lalat yang masuk kedalam tempat tintanya, lalu beliau angkat lalat tersebut dengan hati-hati lalu dibersihkannya dan sampai akhirnya lalat itupun bisa kembali terbang dengan sehat. Maka sekecil apapun sebuah amal apabila kita kerjakan dengan sempurna dan benar-benar tiada harapan yang muncul pada selain Allah, maka akan menjadi amal yang sangat besar dihadapan Allah SWT.
4. Banyak Amal Kebaikan Yang Rahasia
Mungkin ketika kita mengaji dilingkungan orang banyak maka kita akan mengaji dengan enaknya, lama dan penuh khidmat, ketika kita shalat berjamaah apalagi sebagai imam kita akan berusaha khusyu dan lama, tapi apakah hal tersebut akan kita lakukan dengan kadar yang sama disaat kita beramal sendirian ? apabila amal kita tetap sama bahkan cenderung lebih baik, lebih lama, lebih enak dan lebih khusyuk maka itu bisa diharapkan sebagai amalan yang ikhlas. Namun bila yang terjadi sebaliknya, ada kemungkinan amal kita belumlah ikhlas.
5. Tidak membedakan antara bendera, golongan, ras, atau organisasi
Fitrah manusia adalah ingin mendapatkan pengakuan dan penilaian dari keberadaannya dan segala aktivitasnya, namun pengakuan dan penilaian makhluk, baik perorangan, organisasi atau instansi tempat kerja itu relatif dan akan senantiasa berubah, banyak orang yang pernah dianggap sebagai pahlawan namun seiring waktu berjalan adakalanya berubah menjadi sosok penjahat yang patut diwaspadai. Maka tiada penilaian dan pengakuan yang paling baik dan yang harus senantiasa kita usahakan adalah penilaian dan pengakuan dari Allah SWT.
Begitu besar pengaruh orang yang ikhlas itu, sehingga dengan kekuatan niat ikhlasnya mampu menembus ruang dan waktu. Seperti halnya apapun yang dilakukan, diucapkan, dan diisyaratkan Rasulullah, mampu mempengaruhi kita semua walau beliau telah wafat ribuan tahun yang lalu namun kita senantiasa patuh dan taat terhadap apa yang beliau sampaikan.
Bahkan orang yang ikhlas bisa membuat iblis (syaitan) tidak bisa banyak berbuat dalam usahanya untuk menggoda orang ikhlas tersebut. Ingatlah, apapun masalah kita kita janganlah hati kita sampai pada masalah itu, cukuplah hanya ikhtiar dan pikiran saja yang sampai pada masalah tersebut, tapi hati hanya tertambat pada Allah SWt yang Maha Mengetahui akan masalah yang kita hadapi tersebut.
Semoga Allah SWT membimbing kita pada jalan-Nya sehingga kita bisa menjadi hamba-Nya yang ikhlas. Amiin.
Subscribe to:
Posts (Atom)